Jumat, 19 Juni 2009

PENELITIAN TINDAKAN KELAS BAB II

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori

1.Jenis-Jenis Keterampilan Berbahasa

. Keterampilan berbahasa (language arts, language skills) dalam hal ini dibagi menjadi empat segi, yaitu : (1) keterampilan menyimak (listening skills), (2) keterampilan berbicara (speaking skills), (3) keterampilan membaca (reading skills); dan (4) keterampilan menulis (writing skills).

Setiap keterampilan itu erat sekali berhubungan dengan ketiga keterampilan lainnya. Dalam keterampilan berbahasa, pada dasarnya kita mengamati prosesnya melalui suatu hubungan urutan yang terakhir mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita membaca dan menulis. Dari keempat keterampilan tersebut di atas pada dasarnya merupakan satu kesatuan dari catur tunggal.

Setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya, semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktik dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti melatih keterampilan berpikir. Untuk mendapat keterampilan yang lebih jelas, maka berikut ini dibahas sepintas kilas hubungan antara keempat keterampilan itu. Namun begitu, terkait dengan topik TPK, maka dibatasi pembahasannya lebih lanjut , hanya pada hubungan antara menyimak dan berbicara.

1.1 Hakikat Menyimak.

Dalam pengetahuan kebahasaan kita mengenal istilah mendengar, mendengarkan dan menyimak. Ketiga kata ini, tentu mempunyai makna yang berbeda . Secara sekilas pintas, mendengar adalah proses kegiatan menerima bunyi-bunyian yang dilakukan tanpa sengaja atau secara kebetulan saja. Mendengarkan adalah proses kegiatan menerima bunyi bahasa yang dilakukan dengan sengaja tetapi belum ada unsur pemahaman. Sedangkan menyimak adalah suatu proses kegiatan menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (HG.Tarigan : 28).

Penyimak yang baik adalah penyimak yang berencana. Salah satu butir dari perencanaan itu ada alasan tertentu mengapa orang yang bersangkutan menyimak.Alasan inilah yang kita sebut sebagai tujuan menyimak.

Namun begitu, sebelum tujuan itu dibicarakan maka penulis berusaha membahas pengertian menyimak oleh beberapa ahli. Definisi menurut pakar antara lain : Anderson (1972) dalam Guntur Tarigan (1986: 19) menjelaskan bahwa menyimak adalah sebagai prose besar mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan (Anderson, 1972: 69). Russell & Russell, 1959, Anderson, 1972 dalam Guntur Tarigan (1986: 19). Menyimak bermakna mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian serta apresiasi (Russell & Russell,1959; Anderson, 1972 : 69).

Menurut Djago Tarigan (1985: 19) mengatakan bahwa menyimak dapat dikatakan mencakup mendengar, mendengarkan, dan disertai usaha pemahaman. Pada peristiwa menyimak ada unsur kesengajaan, direncanakan adan disertai dengan penuh perhatian dan minat. Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (WJS Poewarminta 1982: 847), menyimak adalah mendengarkan ( mempertahankan apa yang diucapkan orang). Menyimak adalah latihan mendengarkan baik-baik.

Mencermati urai tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan bunyi baik bunyi nonbahasa maupun bunyi bahasa dengan penuh pemahaman, perhatian, apresiasi, serta interpretasi, dengan menggunakan aktivtas telinga dalam menangkap pesan yang diperdengarkan untuk memperoleh informasi dan memahami isi yang disampaikan bunyi tersebut.

1.2 Tujuan Menyimak

Pertanyaan yang mengganjal adalah kapan atau bilamana menyimak itu terjadi? Lalu apa tujuan menyimak? Jawabannya, adalah pada saat ada pembicara atau bunyi lain yang sedang menyampaikan pesan, baik dengan bunyi bahasa maupun bunyi nonbahasa, pendengar harus mendengarkan dan memahami pesan atau bunyi bahasa tersebut. Apa yang disimak? Ya, bunyi. Bunyi yang dapat dipahami seperti lisan dari alat ucap manusia atau bunyi dari benda lain seperti sirine mobil pemadam kebakaran, mobil polisi, mobil ambulans, dan lain-lain yang disebut bunyi nonbahasa.

Karena menyimak hakikatnya adalah mendengarkan dan memahami isi bahan simakan, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan utama menyimak adalah menangkap, memahami, atau menghayati pesan ide, gagasan tersirat dalam bahan simakan.Tujuan yang bersifat umum itu dapat dipecahkan menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek tertentu yang ditekankan. Perbedaan dalam tujuan menyebabkan perbedaan dalam aktivitas menyimak yang bersangkutan. Salah satu klasifikasi tujuan menyimak adalah seperti pembagian berikut ini yaitu menyimak untuk tujuan : (1) mendapatkan fakta; (2) menganalisis fakta; (3) mengevaluasi fakta; (4) mendapatkan inspirasi; dan (5) menghibur diri.

1.3 Jenis Menyimak

Jenis menyimak menurut H.G.Tarigan :

(1) Menyimak ekstensif, digunakan untuk memperkenalkan kembali bahan yang telah pernah dipelajari dalam suatu lingkungan baru dengan cara yang baru. Sriyono dalam artikelnya (2008) menjelaskan bahwa menyimak ekstensif ialah proses menyimak yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menyimak radio, televisi, percakapan orang di pasar, pengumuman, dan sebagainya

(2) Menyimak intensif, lebih diarahkan pada kegiatan menyimak secara lebih bebas dan lebih umum serta tidak perlu di bawah bimbingan langsung para guru. Menurut Suryono (2009) menyimak intensif adalah kegiatan menyimak yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, penuh konsentrasi untuk menangkap makna yang dikehendaki. Menyimak intensif ini memiliki ciri-ciri yang harus diperhatikan, yakni (a) menyimak intensif adalah menyimak pemahaman; (b) menyimak intensif memerlukan konsentrasi tinggi; (c) menyimak intensif ialah menyimak dalam arti memahami bahasa formal; (d) menyimak intensif diakhiri dengan reproduksi bahan simakan.

(3) Menyimak sosial, (a) menyimak secara sopan santun dengan penuh perhatian percakapan atau konvensi dalam situasi-situasi sosial dengan suatu maksud; (b) mengerti serta memahami peranan-peranan pembicara dan menyimak dalam proses komunikasi tersebut (Tarigan 1985: 27).

(4) Menyimak kritis, sejenis kegiatan menyimak yang di dalamnya sudah terlihat kurangnya keaslian atau pun kehadiran prasangka serta ketidaktelitian yang diamati.

(5) Menyimak kreatif, berhubungan dengan kegiatan imajinatif yang menyenangkan.

(6) Menyimak konsentratif, sering disebut juga menyimak untuk menelaah sesuatu.

(7) Menyimak penyelelidikan, adalah menyimak intensif dengan maksud tujuan yang agak lebih sempit.

(8) Menyimak integratif, adalah sejenis menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian dan pemilihan, karena si penyimak harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan .

(9) Menyimak pasif, adalah penyerapan suatu bahasa tanpa upaya sadar yang biasanya memadai upaya-upaya kita pada saat belajar dengan teliti, belajar tergesa-gesa, emnghafal di luar kepala, berlatih, serta menguasai suatu bahasa.

.1.4 Ciri-ciri Penyimak yang Baik

Penyimak yang baik adalah penyimak yang memiliki tiga sikap berikut ini (Suyono dan Kamijan, 2002: 17):

(1) Bersikap objektif terhadap bahan simakan. Penyimak sebaiknya tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal di luar kegiatan menyimak, seperti pembicara, ruang, sarana dan prasarana.

(2) Bersifat kooperatif, penyimak harus berusaha untuk bekerja sama dengan pembicara untuk keberhasilan komunikasi.

(3) Bahan simakan harus komunikatif, berupa konsep, gagasan, dan informasi yang jelas.

. 1.5 Hambatan dalam Menyimak

Hambatan dan kendala dalam menyimak banyak dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasan jelek. Seperti menyimak lompat tiga, maksudnya perhatian penyimak melompat-lompat karena kecepatan berpikir menyimak kurang lebih 400 kata per menit sedangkan kecepatan berbicara hanya kurang lebih 200 kata per menit. Selain itu, menyimak daku dapat fakta, maksudnya penyimak berusaha menangkap satu dua fakta dan kehilangan fakta lainnya, sehingga penyimak tidak dapat bernalar dengan baik.

Hambatan juga terjadi karena sering mengungkapkan penolakan secara gegabah terhadap sesuatu objek sebagian tidak menarik perhatian, menyimak dengan pensil dan kertas di tangan, menyimak penjelasan-penjelasan yang sulit dicerna, melakukan kegiatan perhatian dengan berpura-pura.

Kendala lain adalah faktor psikologi, selalu berprasangka dan kurang simpati terhadap pembicara, kegosentrian serta masalah-masalah pribadi, kurang luasd pandangan.Juga yang tak kalah pentingnya adalah faktor motivasi, ini berkaitan dengan pribadi seseorang.

1.6 Cara Meningkatkan Keterampilan Menyimak

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan keterampilan menyimak seperti berikut ini: (1) bersikaplah secara positif; (2) bertindak responsif; (3) cegahlah gangguan-gangguan; (4) simaklah dan ungkaplah maksud pembicara; (5) carilah tanda-tanda yang akan datang; (6) carilah rangkuman pembicaraan terlebih dahulu; (7) nilailah bahan-bahan penunjang; dan (8) carilah petunjuk-petunjuk nonverbal.

1.7. Teknik Pembelajaran Menyimak

Untuk meningkatkan pembelajaran keterampilan menyimak dan agar pembelajarannya menarik, ada beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam prose belajar mengajar. Teknik-teknik itu, antara lain sebagai berikut:

(1) Simak Ulang-Ucap, teknik ini digunakan untuk memperkenalkan bunyi bahasa dengan pengucapan atau lafal yang tepat dan jelas. Guru dapat mengucapkan atau menutur rekaman bunyi bahasa tertentu seperti vonem, kata, idiom, semboyan, kata-kata mutiara, dengan jelas dan intonasi yang tepat. Siswa menirukan. Teknik ini dapat dilakukan secara individual, kelompok, dan klasikal.

(2) Identifikasi kata kunci, sasarannya untuk menyimak kalimat yang panjang siswa perlu mencari kalimat intinya. Kalimat inti itu dapat dicari melalui beberapa kata kunci. Kata kunci itulah yang mewakili pengertian kalimat.

(3) Parafrase, guru menyiapkan sebuah puisi dan dibacakan atau diperdengarkan. Setelah menyimak siswa diharapkan dapat menceritakan kembali isi puisi tadi dengan kata-katanya sendiri.

(4) Merangkum, guru menyiapkan bahan simakan yang cukup panjang. Materi itu disampaikan secara lisan kepada siswa dan siswa menyimak. Setelah selesai menyimak, siswa disuruh membuat rangkuman.

(5) Identifikasi kalimat topik, setiap paragraf dalam wacana minimal mengandung dua unsur, yaitu (1) kalimat topik dan (b) kalimat pengembang. Posisi kalimat topik dapat di awal, tengah, dan akhir. Setelah menyimak paragraf siswa disuruh mencari kalimat topiknya.

(6) Menjawab pertanyaan, untuk memahami simakan yang agak panjang, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menggali pemahaman siswa.

(7) Bisik berantai, suatu pesan dapat dilakukan secara berantai. Mulai dari guru membisikkan pesan kepada siswa pertama dan dilanjutkan kepada siswa berikutnya sampai siswa terakhir. Siswa yang terakhir harus mengucapkannya dengan nyaring. Tugas guru adalah menilai apakah yang dibisikkan tadi sudah sesuai atau belum. Jika belum sesuai, bisikan dapat diulang, dan jika sudah sesuai bisikan dapat diganti dengan topik yang lain.

(8) Menyelesaikan cerita, guru memperdengarkan suatu cerita sampai selesai. Setelah siswa menyimak, guru menyuruh seseorang untuk menceritakan kembali dengan kata-katanya sendiri. Sebelum selesai bercerita, guru menghentikan cerita siswa tadi dan menggantikan dengan cerita itu berakhir seperti yang disimaknya.

1.8 Model pembelajaran menyimak di SMP

Berdasarkan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran menurut Kurikulum 2004 untuk SMP, materi pembelajaran keterampilan menyimak adalah sebagai berikut:

(1) menyimak berita; (2) menyimak wawancara; (3) menyimak laporan perjalanan; (4) menyimak pidato; dan (5) menyimak dialog.

Terkait dengan topik, maka yang duraikan secara mendetail di sini adalah menyimak pidato. Menyimak pidato adalah kegiatan untuk mendapatkan informasi dan juga menambah wawasan. Dengan bertambahnya pengetahuan dan wawasan seseorang akan lebih mampu berpikir dan bertindak.

Materi pidato dapat diambil secara langsung maupun melalui rekaman kaset atau video.Supaya simakan menarik perhatian siswa, sebaiknya materi memiliki persyaratan antara lain: (a) menarik, (b) aktual, (c) bahasanya komunikatif. Setelah siswa menyimak, tugas siswa selanjutnya adalah: (1) menjawab pertanyaan yang sudah disiapkan oleh guru; (2) menemukan hal-hal yang penting dalam pidato; dan (3) menyimpulkan isi pidato. Penilaian menyimak pidato ini dapat dilakukan dengan melihat kemampuan siswa memahami pidato lewat aspek kebahasaan dan nonkebahasaan.

2.2 Keterampilan Pidato

2.2.1 Pengertian Pidato

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pidato diartikan sebagai (1) pengungkapan pokiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang lain atau (2) wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak. Dalam berpidato, seseorang dapat menggunakan alat-alat bantu berupa gambar dan lembar peragaan lainnya. Tetapi alat utama yang menimbulkan hubungan pidato dengan pendengar adalah berbicara.

Kemampuan berbicara atau berpidato, menurut Tarigan (1997: 7.3)adalah berbicara di hadapan orang banyak (di depan umum) dalam rangka menyampaikan suatu masalah untuk mencapai suatu tujuan tertentu, misalnya untuk bermusyawarah, memberikan rujukan, dan sebagainya.

2.2.2 Persiapan pidato

Untuk mempersiapkan pidato yang baik, perlu diperhatikan tujuh langkah berikut ini:

(a) merumuskan tujuan pidato;

(b) menganalisis pendengar dan situasi;

(c) memilih dan menyempitkan topik;

(d) mengumpulkan bahan;

(e) membuat kerangka (outline);

(f) menguraikan isi pidato secara terperinci; dan

(g) berlatih dengan suara nyaring.

2.2.3 Jenis-Jenis Pidato

Berdasarkan tujuannya, pidato dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu

(1) Pidato Informasi, pidato yang dilakukan dengan tujuan menginformasikan, memberitahukan, atau menjelaskan sesuatu.

(2) Pidato Persuasi, adalah pidato bertujuan meyakinkan pendengar tentang sesuatu.

(3) Pidato Aksi, adalah pidato bertujuan menggerakkan dengan sasaran mempersamakan visi (Tarigan, 1997: 22-23).

2.2.4 Metode Pidato

Berdasarkan cara penyampaiannya terdapat empat metode pidato, yaitu (1) metode impromtu, (2) metode menghafal, (3) metode naskah, dan (4) metode ekspektoran. Di dalam buku komposisi, Gorys Keraf (1997: 182-183), menjelaskan macam-macam metode pidato sebagai berikut :

(1) Metode Impromtu, adalah metode pidato berdasarkan kebutuhan sesaat, tidak ada persiapan. Orang yang berpidato secara serta-merta atau berpidato berdasarkan pengetahuan dan kemahirannya;

(2) Metode menghafal, adalah metode pidato yang terlebih dahulu ditulis naskahnya dengan mengikuti aturan-aturan penulisan naskah pidato, setelah itu naskah pidato tersebut dihafalkan kata demi kata;

(3) Metode naskah, adalah metode pidato yang dilakukan dengan cara membaca naskah yang telah dipersiapkan. Cara atau metode ini biasanya dilakukan dalam pidato-pidato resmi; dan

(4) Metode Ekspektoran, adalah metode pidato yang dilakukan dengan cara menggunakan catatan-catatan kecil yang isinya berupa catatan-catatan penting sejenis kerangka sebagai pedoman.

2.2.5 Pola Organisasi Pidato

Pola organisasi pidato dapat digolongkan ke dalam tiga tipe besar yaitu:

(a) Pola Urutan, yaitu pola urutan kronologis dan pola urutan ruang. Urutan kronologis adalah susunan isi yang dimulai dari periode atau data tertentu, begerak maju atau mundur secara sistematis. Sedangkan urutan ruang adalah susunan isi yang berurutan berdasarkan kedekatan fisik satu dengan yang lainnya.

(b) Pola Sebab, sebagaimana terlihat dari namanya, organisasi pidato yang menggunakan pola sebab bergerak sebagai berikut: (1) dari suatu analisis sebab di saat ini bergerak ke arah analisis akibat di masa yang akan datang, atau (2) dari diskripsi kondisi di saat ini bergerak ke analisis sebab-sebab yang memunculkannya.

(c) Pola Topik, organisasi pidato yang menggunakan pola topik dilakukan apabila materi yang dibicara lebih dari satu periode atau kelompok. Oleh karena itu, di dalam isi pidato akan terdapat beberap subtopik.

2.2.6 Tahap-tahap Menyusun Naskah Pidato

Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam menyusun naskah pidato.

(1) Memilih subjek dan membatasi tujuan umum pidato.

(2) Membtasi subjek untuk mencocokkan waktu yang tersedia, menjaga kesatuan dan kepaduan pidato.

(3) Menyusun ide pokok menurut tahap-tahap urutan alur dasar pidato (perhatian, kebutuhan, kepuasan, dll) atau menurut salah satu pola organisasi (misalnya urutan kronologis, urutan ruang,dll.).

(4) Memasukkan dan menyusun submateri yang berhubungan di setiap ide pokok.

(5) Mengisi materi pendukung yang memperkuat atau membuktikan ide; dan

(6) Memeriksa draft kasar, untuk meyakinkan bahwa subjek telah cukup terekam dan mencerminkan tujuan khusus pidato.

2.3 Hubungan antara Menyimak dengan aketerampilan Berbicara

Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung merupakan komunikasi tatap muka atau face to face cominication. (Brooks, 1964: 134). Antara berbicara dan menyimak terdapat hubungan yang erat ternyata dari hal-hal berikut ini:

(1) Ujaran (speech), dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi), oleh karena itu, model atau contoh yang disimak serta direkam oleh anak sangat penting dalam penguasaan serta kecakapan berbicara.

(2) Kata-kata yang akan dipakai serta kita plejari biasanya ditentukan oleh pengarang (stimuli) yang ditemui, misalnya : kehidupan desa, kota dan kata-kata yang paling banyak memberikan bantuan atau pelayanan dalam penyampaian gagasan-gagasannya.

(3) Meningkatkan keterampilan menyimak berarti membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang.

(4) Bunyi suara merupakan suatu faktor penting dalam peningkatan cara pemakaian kata-kata., dan

Berbicara dengan bantuan alat-alat peraga (visual aids) akan menghasilkan penangkapan informasi yang lebih baik pada pihak penyimak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar