Rabu, 17 Juni 2009

ANDA BELUM BERUNTUNG



Dalam sebuah keluarga tingallah bapak, ibu dan salah seorang anaknya. Bapaknya bernama Ali Marzati, ia seorang pengusaha sukses dalam bidang komersial. Ibunya, Sumiati seorang ibu Rumah Tangga yang penuh perhatian. Sedangkan anaknya Parto ( bukan pelawak ) masih duduk dibangku TK Nol kecil di sebuah TK Negeri kawasan Sape Bima.

Pada suatu pagi yang cerah, seperti biasa sebelum berangkat menunaikan tugasnya masing-masing, mereka sarapan bareng. Ketika mereka lagi asyik menikmati hidangan tiba-tiba, si kecil Parto nyelutuk.

“ Pak, minta uang Pa ujarnya “.

Parto, masak lagi makan kok minta uang, sih bapaknya mengomentari.

Ibu di sampingnya langsung menimpali. Bapak kok kikir amat sih dengan anak sendiri. Bukannya kikir ma…kita kan lagi makan nih , gimana bisa nikmatin kalo modelnya kayak gini. Alah pak,…kasih sudah anakmu, sang ibu menggerutu.

Dengan sedikit emosi bapak mengeluarkan uang recehan Rp. 500 ( kepingan logam yang berwarna kuning ) dan meletakkannya di atas piring nasi anaknya.

Tanpa di sadari, Parto menyuap nasinya dan uang logam itupun seketika berada di dalam perutnya. Loh…. apaan nih, masak uang juga dilahap, kata sang bapak. Bapak ini gimana sih, kan bapak yang nyimpan di dalam piring nasi Parto, sang Ibu nggak mau ngalah. Pokoknya saya tidak mau tahu, uang jajannya sudah saya kasih, titik sang bapak marah-marah. Iya deh nggak apa-apa nanti aku yang kasih, seru ibunya.

Bu,…sekarang ini lagi krisis, di mana-mana krisis global, bapak langsung ceramah. Tuh lihat di Tivi Amerika saja, sekarang nih lagi krisis. Belum lagi krisis moral, KDRT, Manohara, Ambalat. Loh….pak kok Manohara di bawa-bawa, bukan gitu bu….Pak sudah jam 7.00 nih nanti terlambat. OK deh…

Sepulang sekolah, Parto sakit perut ( mungkin karena menelan uang logam, kali ). Sang ibu membawanya ke WC dekat dapur namun buru-buru Pak Ali membopong anaknya untuk membuang hajatnya di kali dekat rumah. Hitung-hitung 500 perak nggak jadi hilang deh pikir pak Ali. Ternyata bukan hanya Parto saja yang lagi membuang hajatnya.

Segera saja Parto bergabung dengan anak-anak lainnya sedang pak Ali pura-pura mandi di bagian hulu. Spontan saja pak Ali melihat kilauan berak anaknya dan segera mendekat sambil bergumam, hidup ini harus hemat bukan kikir, harus bisa muzhid. seraya mengusap berak anaknya.

Alangkah kagetnya Pak Ali karena yang muncul bukanlah uang 500 logam melainkan Rp. 100.000 yang masih sangat bagus ( mungkin baru keluar di Bank ). Pak Ali nggak percaya sambil mengusap-usap matanya namun yang dilihat tetaplah seratus ribu. Wah…kalo begini cepat kaya gue nih, gumamnya.

Ia segera pulang dan menceritaknnya kepada istri tercinta. Semula istri tidak percaya, ah masak sih pak. Iya bu , bapak kan nggak pernah bohong sama ibu.

Sampai malam mereka masih menceritakan pengalaman baru yang mereka rasakan.

Di saat tidur bapak ternyata punya rencana matang yang akan dilaksanakannya buat besok pagi.

Keesokan harinya kejadian kemarin terulang lagi di mana Parto menelan uang logam dan yang keluar adalah seratus ribu. Tamak pak Ali segera muncul, bagaimana kalau besok saya suruh Parto untuk menelan satu juta rupiah ? karena kalau 500 rupiah saja kayaknya tidak akan membuat cepat kaya. Malam itu Pak Ali sibuk sendiri melipat dan menggulung 10 lembar uang kertas buat si Parto bukan uang jajan tapi buat di telan . Bayangin saja kalo 500 keluar seratus ribu, kalo satu juta keluar berapa ?

Tepat hari yang ditentukan bapak sudah siap-siap dengan gulungannya dan wap… sudah tertelan. Pagi itu pak Ali sengaja nggak ngantor karena berharap lipatan uang yang akan keluar dan uang itu mau diapakan, itulah yang membuatnya bingung.

Sore harinya Pak Ali sudah harap-harap cemas menunggu anaknya sakit perut. Dan benar saja Parto minta eek. Spontan pak Ali membawa anaknya ke kali dan dia segera ke bagian hulu. Sambil berkhayal Pak Ali mengawasi anaknya. Saya akan membeli apasaja dengan uang itu nanti, bila perlu nikah lagi deh. Dan bayangan berak itu sudah di depan matanya. Segera saja diusap pelan-pelan dan ia tambah berbahagia karena ada amplopnya pula. Saking tidak tahannya amplop segera terbuka, ternyata hanya berisi sebuah tulisan “ anda belum beruntung “. Betapa kecewanya Pak Ali, serasa sudah tak bertulang, lemas sekali. Uang melayang…nikah lagi tidak di dapat.

Makanya jangan rakus donk dan jangan banyak menghayal. Usaha yang halal ghitu….!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar