Tampilkan postingan dengan label bima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bima. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juni 2009

MITHOS “DORO TABA’A”



Pada jaman dahulu sebelah Selatan kota Bima yang sekarang berdiri sebuah kerajaan yang aman dan makmur, namanya kerajaan LODO. Rakyatnya hidup tenteram serta berkecukupan . Selain itu rakyatnya ramah, sopan dan suka bergotong royong. Akan tetapi di tengah kemakmuran itu di lingkungan istana suasananya sungguh berbeda karena saat itu sang raja SAKURU sedang berbaring lemah di atas peraduannya. Tampak beberapa tabib istana sedang berpikir keras untuk mencari obat yang cocok buat sang raja yang sakit sudah enam bulan, lantaran ditinggal mati permaisurinya.

Di atas pembaringannya sang raja terlihat cemas dan takut akan sesuatu. Di samping kanannya duduk putera sulungnya bernama GARISI. Perawakannya tingii, hitam dan angkuh serta suka meremehkan orang lain. Sedangkan samping kirinya yang bungsu yaitu NGAMO. Orangnya gemuk pendek dan sifatnya kasar dan suka mengamuk. Saat itu raja mencemaskan dirinya yang mungkin akan meninggal tanpa seorangpun dari puteranya yang bisa diandalkan untuk bisa menggantikannya. Keduanya tidak berbakat dan tidak cocok dengan keadaan rakyatnya. Napasnya sudah satu-satu namun raja tetap berusaha untuk menguatkan dirinya sampai ajal datang menjemput.

Keesokan harinya, seisi istana digemparkan oleh berita yang menyedihkan, raja yang mereka cintai telah wafat.Suasana duka berlangsung selama sebulan. Seluruh rakyatnya, di pelosok-pelosok sekalipun berbondong-bondong ke istana untuk penghormatan terakhir pada sang raja. Raja telah meninggalkan kerajaannya yang makmur dengan dua orang putera. Dan juga meninggalkan seekor kuda sembrani yang bernama LA MANGGE dan sebuah kapal pesiar kerajaan yaitu kapal TABA’A. Sebulan setelah wafatnya sang raja terjadi keributan di kalangan istana, antara Garisi dan Ngamo yang masing-masing berambisi untuk menjadi raja menggantikan ayahandanya. Para punggawa istana sudah berupaya semaksimal mungkin untuk mendamaikan mereka bahkan ingin membagi dua kerajaan namun keduanya tetap ngotot untuk menjadi raja di situ.

Pertentangan keduanya memaksa para punggawa kerajaan untuk berpihak pada masing-masing figur. Perang tak dapat dielakkan lagi, maka ditetapkanlah aturan main dalam peperangan tersebut. Perang akan dilaksanakan pada siang hari saja sedangkan malamnya untuk merawat dan mengobati yang luka dan mengurusi tentara yang meninggal. Adapun lokasi peperangan di SO PARIA.

Keesokan harinya sebelum perang dimulai dengan pongahnya Garisi bersumpah “ apabila aku kalah dalam peperangan melawan Ngamo, maka kapal Taba’a ini akan terbalik dan lautan luas ini akan menjadi daratan”.Rupanya sumpahnya itu didengar oleh Shang Hyang dan terdengarlah suara petir sebanyak tiga kali berturut-turut.

Pada hari pertama, banyak pengikut Garisi meninggal. Melihat hal ini ia menjadi murka dan segera menghimpun pasukannya dan mengacaukan pasukan adiknya. Dengan menunggang la Mangge yang sakti itu dia mengobrak abrik pasukan musuhnya. Demikianlah perang memakan korban yang banyak dari kedua belah pihak dan berjalan selama sebulan namun belum ada tanda-tanda untuk berakhir.

Pasukan Ngamo sudah banyak yang menjadi mayat, ia tidak tinggal diam.Ia berusaha untuk mendekati kakaknya dan berusaha untuk merebut la Mangge. Pengikutnya sudah mulai kocar-kacir tapi Ngamo sendiri menyusup ke dalam pasukan kakaknya. Segera ia mndekati kakaknya dan secepat kilat menariknya dari atas kuda. Karena tarikannya begitu kuat, Garisi terpelanting ke belakang sedangkan Ngamo dengan buru-buru langsung naik ke atas punggung la Mangge. Namun sial baginya karena saat itu dilihat oleh pasukan Garisi yang langsung menghujani dengan anak panah. Hampir seluruh tubuhnya penuh dengan anak panah, darah berceceran di mana-mana.

Ngamo berusaha untuk menyelamatkan diri di sela-sela pasukan musuhnya. Saking buru-burunya cambuk sakti KARACI terjatuh dan secara ajaib membesar dan memanjang menghalangi pasukan Garisi. Dengan demikian selamatlah Ngamo dan pasukannya sampai ke seberang lautan. Mereka menuju ke Utara, di sebuah daerah yang subur masih dalam wilayah kerajaan Sakuru. Daerah itu diberi nama PUCUKE artinya ujung ( dari kata pucuk ), ujung dari segala penderitaan dan kesengsaraan. Adapun cambuk sakti Karaci lama kelamaan membentuk sebuah gunung ( doro ) yaitu DORO KARACI.

Di daerah yang baru mereka mulai kelihatan sibuk, ada yang membuat perkemahan, merawat yang sakit dan mencari umbi-umbian serta buah-buahan. Mereka segera mengobati pimpinannya. Dan sebulan kemudian kelihatanlah sebuah perkampungan yang kecil dan sederhana. Tiap hari mereka berlatih perang, memainkan tombak, pedang dan panah serta diperkuat dengan pasukan berkuda dan tilik sandi yang bertugas untuk mengintai keadaan musuh. Di tengah kegiatan tersebut Ngamo bersumpah “ apabila kita menang, maka saya akan menjadi raja yang baik dan bijaksana, tidak akan mengamuk dan semena-mena lagi. Kalau saya berdusta maka saya dan la Mangge akan menjadi batu yang menunggu daerah Pucuke ini”.

Dipetiklah berita dari pasukan tilik sandi bahwa setelah kemenangan itu, Garisi dan para pengikutnya mengadakan perayaan kemenangan selama 100 hari di atas puncak gunung Karaci sambil mabuk-mabukan. Mendengar laporan tersebut Ngamo mengadakan rapat dengan pasukannya. Hasil keputusan rapat tersebut adalah : akan diadakan serangan balasan pada malam yang ke 100 karena menurut perhitungan mereka malam itu merupakan acara puncaknya, di mana orang-orang lagi lengah. Sedangkan mereka sendiri mengadakan persiapan yang matang sambil menunggu waktu yang telah ditentukan.

Ketika hari yang ditunggu-tunggu itu tiba, terlihatlah sejumlah pasukan yang sedang mengarungi lautan menuju ke Selatan yaitu Gunung Karaci. Setibanya di pantai mereka menyebar ke segala penjuru sambil mendengar perintah penyerangan. Benar saja, malam itu Garisi dan pasukannya sedang berpesta pora tanpa menyadari bahwa mereka berada di bawah pengintaian musuh. Ngamo mencari tempat kakaknya, rupanya sedang bercengkerama dengan gadis-gadis sambil mengucapkan kata-kata yang tidak karuan.

Tiba-tiba terdengar suara perintah, serang…tanpa diperintah dua kali mereka menyerang, mencari lawan dengan senjata terhunus. Pasukan Garisi yang tidak menyadari akan hal itu karuan saja melawan.Tak ayal lagi malam itu juga seluruh pasukan Garisi mandi darah. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Sementara Garisi sendiri hendak melarikan diri dengan gadis-gadisnya namun segera di hadang oleh Ngamo. Ngamo yang merasa diri di atas angin segera mengayunkan pedangnya. Sekali tebas, leher kakaknya sudah terpisah dengan tubuhnya. Malam itu merupakan malam terakhir bagi Garisi dan pasukan nya. Ngamo dan pasukannya bersuka cita atas kemenangan itu. Karena kecapekan maka pada malam itu mereka bermalam di atas gunung Karaci.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka dibangunkan oleh suara angina topan dan gempa bumi. Mereka sibuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Namun kejadian itu tidak berlangsung lama. Mereka melihat ke bawah sana, rupanya sedikit demi sedikit air laut menjadi surut dan yang nampak hanyalah daratan yang berhamparan luas dan perlahan-lahan menjadi rata.Pusat ibukota kerajaan pun rata dengan tanah hancur berantakan. Adapun kapal pesiar Taba’a yang sedang bersandar tiba-tiba terbalik di tempatnya menjadi sebuah gunung dan mulai ditumbuhi rerumputan liar.

Ngamo merasa sedih. Diam-diam dengan menunggang la Mangge, ia bergerak kea rah Utara. Pucuke menjadi tujuannya. Sambil mengayunkan pedangnya ia membabat apa saja yang ditemuinya, mengamuklah ia sejadi-jadinya. Tak seorangpun yang berani mendekat karena takut akan sayatan pedang dan berujung kematian. Menangislah ia meratapi segala kejadian yang menimpanya sampai tertidur di bawah pohon, sementara la Mangge sibuk merumput. Sekali lagi terjadilah keanehan. Ngamo dan la Mangge menjadi batu. Rupanya Ngamo termakan oleh sumpahnya sendiri.

Demikianlah mitos tersebut, bila kita berkunjung ke daerah Sakuru sekarang ( daerah Kabupaten Bima bagian selatan, Kecamatan Monta ), kita akan melihat sebuah gunung yang mirip sekali dengan cambuk, Doro Karaci namanya. Di atas lerengnya ada sebuah batu yang terbelah menjadi dua bagian, itulah Garisi yang kepalanya terpenggal. Sedangkan di daerah Pucuke kita bisa melihat sebuah batu bulat dan agak jauh darinya sebuah batu yang mirip kuda, Ngamo dan La Mangge. Dan ke arah Barat sebelah selatannya Desa Waduwani kita bisa melihat sebuah bukit yang mirip sekali dengan sebuah kapal terbalik. Itulah Doro Taba’a yang hanya ditumbuhi rerumputan liar.

Selasa, 16 Juni 2009

“ DORO KABUJU” DALAM MITHOS DOU SAPE



Pada jaman dahulu di negeri antah berantah para dewa dan dewi sejagat raya bermusyawarah untuk mendirikan sebuah gunung dengan menggunakan “berak”. Mereka bersepakat bahwa tempatnya berada di daerah ujung ( sampai = sampe, sape menurut lidah orang Bima ) dan harus selesai dalam semalam. Apabila lewat waktunya, maka ada sanksi yang akan diberikan oleh pemimpin mereka.

Setelah waktunya ditentukan, mereka mulai mengerjakan tugasnya dengan suka cita sebab menurut pemikiran mereka tugas ini sangatlah ringan karena hanya membuang hajat yang tidak perlu memerlukan tenaga dan biaya. Mereka bekerja sambil mendendangkan syair dan lagu. Tanpa terasa hari sudah mulai pagi dan mentari sudah berada di ufuk Timur.

Sayangnya, salah seorang dewi yang ternyata berasal dari Jawa tidak bisa lagi mengepakkan sayapnya karena matahari sudah nampak berarti kekuatannya sudah hilang. Dia sangat sedih melihat saudara-saudaranya yang sudah terbang meninggalkannya. Mereka memanggil-manggil “ Neng “ ( biasanya orang Jawa menyebut saudaranya dengan sebutan itu ) tunggu. Maksudnya adalah tunggu pada waktu yang akan datang mereka akan menjemputnya. Neng….tunggu, neng ….tunggu neng…tunggu, neng….gu dan yang terdengar adalah suara “Nenggu”saja.

Masyarakat yang ada di sekitar tersebut merasa kaget dengan adanya berak yang bersusun-susun ( na Kabujuku wekina ) dan tiba-tiba membentuk sebuah gunung . Dan yang membuat mereka lebih kaget lagi yaitu hadirnya seorang perempuan cantik jelita yang tiada tandingannya sedang menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang malang . Oleh masyarakat setempat memanggilnya “Nenggu” karena mereka mendengar suara tersebut dari atas langit. Adapun gunung tersebut di namai gunung ( Doro ) Kabuju.

Sementara itu di Sape sendiri terdapat seorang pemuda ganteng yang gagah berani dan sakti mandraguna. Ia bernama La Koka.Ia lahir dari keluarga miskin namun tahu adat dan memegang prinsip hidup dengan aturan norma dan tatakrama. La Koka mendengar kabar bahwa ada seorang cantik yang sedang menangis selama tiga hari. Ia punya niatan untuk membantunya karena La Koka adalah seorang pemuda yang ringan tangan dan suka membantu.

Alangkah kagetnya ia setelah berhadapan dengan si Nenggu, sebab yang dilihatnya bukanlah manusia biasa. “Aduhai, perikah ataukah manusia yang kutemui sekarang ? Namun tidak ada jawaban sama sekali. Berkali-kali La Koka menghiburnya tetap tidak ada sahutan. Untuk itulah maka dia segera mengheningkan cipta di gunung Sangiang meminta petunjuk dari Sang Hyang Widhi Wasa. Tiba-tiba meletuslah gunung Sangiang dan terdengarlah bisikan “ Nenggu bukanlah manusia biasa tetapi seorang dewi kayangan yang menjadi manusia lantaran kekuatannya sudah lenyap.

Rasa ingin tahunya tentang si Nenggu semakin besar dan semakin besar pula hasratnya untuk membantunya. Pertemuan demi pertemuan telah dilalui oleh mereka dan benih-benih kasmaran mulai tumbuh di hati mereka berdua. La Koka sudah tidak tahan, untuk itulah maka ia hendak meminangnya buat dijadikan istri.

“ Apakah kanda tidak menyesal ?“ Tanya si Nenggu. Apa yang harus kanda sesali ? La Koka balik bertanya.

Dinda bukanlah golongan kanda yang sudah pasti lain adat dan tradisinya, Nenggu menyahut. Adat bukanlah batu sandungan bagiku untuk mempersuntingmu, jawab La Koka. Bagaimana dengan Ina dan Ama mu ? Ina dan Amaku selalu memberikan kebebasan padaku untuk mencari pendampingku. Pokoknya mereka semuanya menyerahkan padaku, ghitu lhoks….

Tapi dinda takut kanda tidak sanggup untuk memenuhi satu persyaratan sebagai mahar untukku. Apakah maharmu itu, wahai bidadariku Tanya La Koka dengan suara sendu. Kanda,…Aku hadir di sisimu lantaran sebuah gunung, maka dinda memintamu untuk mendatangkan sebuah gunung yaitu gunung Monta ( Gunung yang berada di Kecamatan Monta , sebelah Selatan Kecamatan Woha Kabupaten Bima ) sebagai lambang perpaduan cinta kasih kita berdua. Sanggupkah kanda ? Nenggu memelas. Jangankan satu gunung seribu gunungpun akan kanda datangkan, La Koka menyanggupinya..

Hari sudah mulai malam sekali lagi La Koka meminta petunjuk pada Sang Hyang. Dengan bersujud sebanyak seribu kali dan melakukan semedi selama tiga hari tiga malam La Koka akhirnya mendengar bisikan yang diawali dengan keluarnya lahar dari gunung Sangiang. Adapun bisikan itu adalah “Tariklah napas dalam-dalam sekuat kemampuanmu , alirkan pada mata dan kedua tanganmu, pusatkan perhatianmu pada gunung Monta, ucapkanlah dalam batinmu….wahai gunung Monta tunduklah pada perintahku”.

Keesokan harinya di hadapan si Nenggu, La Koka mulai melakukan ritualnya. Seketika itu gunung Monta sudah bersanding di samping gunung Kabuju. Wahai kanda tercinta sekarang diriku seutuhnya kuserahkan padamu, Nenggu bersuka cita.

Maka dilangsungkanlah pernikahan mereka selama tiga hari tiga malam. Namun pada hari ketiga terjadilah bencana yang harus memisahkan mereka. Tiba-tiba di tengah keramaian itu, tak terasa keluarlah sebuah suara yang amat keras dari si Nenggu, suara kentutnya. La Koka kaget, semua mata tertuju pada mereka berdua. Dengan nada marah La Koka menimpali “ Mengapa dinda kentut di tempat keramaian ?”. Itu pamali bagi kami, dasar perempuan tak tahu adat “. Bagai kuda lepas kendali keluarlah sumpah serapah dari La Koka “ Jadilah kamu sebuah batu yang menunggu Doro Kabuju “. Beberapa saat kemudian Nenggu berubah menjadi batu. La Koka menyesal, namun apa daya nasi sudah menjadi bubur. La Koka menangis memeluk istrinya yang sudah menjadi batu. Dengan marahnya ia naik ke atas doro Kabuju. Dengan kekuatannya ia melompat, dalam sekejap ia sudah menghilang dari pandangan mata. Ia pergi dengan rasa campur aduk, senang, bahagia, sakit hati, malu dan menyesal. Masyarakat hanya bisa melihat bekas telapak kakinya yang membekas pada batu. Sirna hilang kerta ning bhumi begitu kata orang Jawa.

Itulah sedikit mithos kami di Sape, sampai sekarang telapak kaki itu masih ada. Dan juga masyarakat Kowo melihat bahwa di gunung Kabuju Kowo ada bekas telapak kaki, itulah telapak kaki La Koka. Wah saingan donk dengan telapak kaki raja Purnawarman, raja dari negeri Taruma yang gagah berani.